............................................"SELAMAT DATANG DI BPK KEDUNGWUNI JL.RAYA TOSARAN NO.03 KEDUNGWUNI - PEKALONGAN 51173"............................................

Jumat, 24 Juni 2011

KEKURANGAN DAN KELEBIHAN PESTISIDA KIMIA DAN ALAMI
1. Pestisida Kimia

  •  Kekurangan 
    • Hama menjadi kebal (resisten)
    • Peledakan hama baru (resurjensi)
    • Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen
    • Terbunuhnya musuh alami
    • Pencemaran lingkungan (air dan tanah ) oleh residu bahan kimia
    • Tidak ramah lingkungan 
    • Harganya mahal 
    • Matinya musuh alami hama tanaman 
    • Matinya organisme yang berguna 


  • Kelebihan 
    •  Mudah di dapatkan di berbagai tempat 
    • Zatnya lebih cepat bereaksi pada tanaman yang di beri pestisida 
    • Kemasan lebih praktis 
    • Bersifat tahan lama untuk disimpan 
    • Daya racunnya tinggi ( langsung mematikan bagi serangga

2. Pestisida Nabati dan Alami

        Secara umum pestisida alami adalah suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Jenis pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di alam, sehingga tidak mencemarkan lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak, karena residunya mudah hilang. Pertanian masa depan yang ideal seharusnya memadukan teknologi tradisional dan teknologi modern yang diaktualisasikan sebagai pertanian berwawasan lingkungan. Salah satu alternatif pengembangan pertanian berwawasan lingkungan adalah dengan menggunakan tanaman-tanaman penghasil pestisida alami, misalnya tanaman nimba. Pestisida asal nimba mempunyai tingkat efektifitas yang tinggi dan berdampak spesifik terhadap organisme pengganggu. Bahan aktif nimba juga tidak berbahaya bagi manusia dan hewan. Selain itu, residunya mudah terurai menjadi senyawa yang tidak beracun, sehingga aman atau ramah bagi lingkungan.

  • Kekurangan
    • Cepat terurai dan daya kerjanya relatif lambat sehingga aplikasinya harus lebih sering
    • Produksinya belum dapat dilakukan dalam jumlah besar karena keterbatasan bahan baku 
    • Kurang praktis 
    • Tidak tahan disimpan 
    • Daya racunnya rendah (tidak langsung mematikan bagi serangga) 
    • Cara kerjanya (efek mortalitasnya) lambat 
    • Harus disemprotkan secara berulang-ulang
  •  Kelebihan
    • Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal: dengan bau yang menyengat 
    • Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot 
    • Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa 
    • Menghambat reproduksi serangga betina 
    • Racun syaraf bagi hama 
    • Mengacaukan sistem hormone di dalam tubuh serangga 
    • Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga 
    • Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri 
    • Dapat menyebabkan gangguan dalam proses metamorfosa dan gangguan makan (anti feedant) bagi serangga.

3. Pestisida Biologi atau Musuh Alami

       Musuh alami itu salah satu cara pengendalian yang cukup bagus diterapkan di Indonesia. Walaupun butuh waktu yang lama supaya gulma mati / terkendali, tetapi musuh alami termasuk pengendali yang ramah terhadap lingkungan. Secara alami tiap spesies memiliki musuh alami (predator, parasit, dan patogen) yang dapat dimanfaatkan untuk pengendalian hama tanaman. Peningkatan penggunaan pestisida hayati dengan bahan aktifnya jasad renik penyebab penyakit hama khususnya serangga akan mengurangi ketergantungan terhadap insektisida kimiawi.

  • Kekurangan
    • Kelebihan musuh alami dapat menimbulkan kerusakan lingkungan yang baru 
    • Dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem
  • Kelebihan 
    • Merupakan pengendalian hama yang ramah lingkungan 
    • Tidak mengeluarkan biaya yang besar 
    • Tidak meninggalkan residu beracun pada hasil pertanian, dalam tanah maupun pada aliran air alami. 
    • Tidak menyebabkan fitotoksin (keracunan) pada tanaman

Sabtu, 11 Juni 2011

Mengendalikan Hama Wereng Batang Cokelat dengan Jamur

pictureBeberapa waktu lalu ribuan hektare sawah di wilayah Demak dan sekitarnya gagal panen akibat serangan hama. Hingga kini hama merupakan salah satu kendala produksi yang selalu mengganjal target produksi.

Beberapa waktu lalu ribuan hektare sawah di wilayah Demak dan sekitarnya gagal panen akibat serangan hama. Hingga kini hama merupakan salah satu kendala produksi yang selalu mengganjal target produksi. Padahal kebutuhan beras nasional meningkat minimal 0,5 juta ton setiap tahunnya.

Ledakan jenis hama terjadi silih berganti dan tidak jarang diikuti oleh munculnya strain atau biotipe baru yang lebih ganas. Di antaranya hama wereng batang cokelat (WBC) yang merupakan hama penting yang harus diwaspadai karena sewaktu-waktu populasinya bisa meledak bila kondisi lingkungan mendukung. Hama ini merupakan vektor virus kerdil rumput dan kerdil hampa dengan peningkatan populasi secara eksponensial.
Beberapa teknik pengendalian sebetulnya telah dilakukan antara lain memperbaiki varietas tahan hama dan memperbaiki pola tanam (pergiliran tanaman).
Namun karena tingginya kemampuan adaptasi WBC dan belum diterapkannya pola pergiliran varietas oleh petani menyebabkan perkembangannya biotipe WBC sangat cepat. Biotipe WBC terbaru mampu menyerang varietas yang saat ini dianggap paling tahan (IR 64) seperti halnya di Jawa Timur.
Sementara itu penggunaan insektisida selain tidak lagi manjur, juga bersifat beracun bagi lingkungannya. Sebagai contoh buprofezin yang dulu dianggap aman, kini diketahui beracun terhadap nener bandeng, mujair, dan udang windu.
Aman Lingkunggan
Untuk itu Badan Litbang Pertanian saat ini mengembangkan metode pengendalian yang efektif, efisien, sekaligus aman bagi lingkungan. Dua orang peneliti Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetika Pertanian (Balitbiogen), Badan Litbang, TP Priyatno dan MK Kardin mengembangkan jamur patogen serangga (JPS) sebagai agen pengendali WBC.
Menurut Priyatno, penerapan JPS baik pada skala pengujian maupun di lapangan masih rendah, padahal sangat potensial sebagai musuh alami WBC.
Bila dibandingkan dengan jenis patogen serangga lainnya, pemanfaatan JPS dinilai lebih menguntungkan. Proses infeksi JPS terjadi melalui penetrasi integumen, saluran pencernaan, dan spirakula, sehingga sangat efektif untuk membasmi WBC.
Selain itu infeksi dapat terjadi pada semua jenis dan fase perkembangan serangga. Sementara proses infeksi oleh patogen lain hanya terjadi melalui saluran pencernaan (mulut).
Menurut Kardin ada 14 jenis jamur yang telah diketahui bersifat patogenik terhadap WBC. Keberadaannya di dalam populasi WBC menentukan tinggi rendahnya populasi WBC.
Pengaruh infeksi JPS bersifat mematikan, mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan serangga serta menurunkan kemampuan reproduksi. Selain itu menurunkan ketahanan serangga terhadap serangan predator, parasitoid, patogen, insektisida kimia, dan cekaman lingkungan.
Beberapa JPS yaitu Hirsutella citrifromis, B. bassiana, dan M. anisopliae memiliki pertumbuhan yang cepat dan meluas. Bahkan dua jenis terakhir selain menyerang WBC juga infektif terhadap beberapa jenis hama sekaligus. Dengan dosis yang rendah (0,017 g/ml) mampu menimbulkan kematian WBC dalam 16 hari dengan tingkat kematian hingga sebesar 90 persen. Keunggulan lainnya, JPS bersifat kompatibel dengan pengendali hama lainnya.
Kendala Pengembangan
Aktivitas JPS sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal. Virulensi JPS berhubungan dengan spesifikasi inang atau lokasi, sedangkan viabiltas spora bergantung pada karakteristik sporanya, suhu, kelembaban nisbi, dan radiasi ultra violet. Beberapa faktor ekologis, patologi, dan entomologi sering kali menjadi kendala pengembangan JPS.
Menurut Priyono, kendala utama pengembangan dan aplikasi JPS adalah masih rendahnya kemampuan dan pengetahuan peneliti dalam teknik isolasi idenfitikasi, produksi hingga formulasinya.
Penggunaannya masih sering disamakan dengan insektisida kimia, sehingga kefektifannya tidak sesuai dengan harapan. Padahal aplikasi JPS harus memperhatikan strain, umur biakan, tingkat perkecambahan spora, bentuk formulasi, dan waktu aplikasi yang tepat.
Hal lain yang masih menjadi kendala dan harus diwaspadai adalah aspek keamanannya. Beberapa JPS diketahui menimbulkan reaksi alergenik, iritasi, mikosis, dan menghasilkan racun bagi manusia dan hewan.
Sebagai contoh C. coronatus dapat menyebabkan mikosis pada kuda dan manusia. B. bassiana menimbulkan reaksi alergenik pada manusia dan hewan piaraan, sedangkan aspergillus menghasilkan racun berbahaya.
Untuk itu harus dilakukan seleksi strain mana yang memiliki efektifitas pengendalian hama tinggi. Selain itu juga bisa membunuh berbagai jenis hama sekaligus, kompatibel dengan pengendali hama lainnya, serta aman bagi manusia dan hewan. Menurut Priyono hal itu bisa dilakukan dengan teknik rekayasa genetika.
Sementara itu produksi JPS tidak membutuhkan media yang mahal. Beberapa produk dan limbah pertanian yang murah dapat dikembangkan sebagai media perbanyakan. Misalnya saja kentang, nasi, oatmeal, dan jagung sering digunakan sebagai media perbanyakan JPS.
Sedangkan mengenai formulasi, hendaknya dipilih formula yang mampu mempertahankan stabilitas virulensi dan viabilitas sedikitnya satu tahun. Pengembangan formula diharapkan mampu meningkatkan persistensi pengendalian. Selain itu bisa juga dilakukan penggabungan beberapa patogen dalam satu formulasi, ujar Priyono.
Dalam prakteknya, JPS sebagai insektisida mikroba dapat dilakukan dengan teknik penyemprotan, penghembusan, dan penyebaran. Selain itu penggunaannya dapat dicampur dengan insektisida lainnya sehingga memiliki daya basmi hama sangat tinggi.
Penggunaan JPS sebagai pengendali hama memunculkan harapan baru pestisida nabati yang lebih ramah lingkungan. Dengan teknik pengembangan yang tepat, selain efektif membasmi hama JPS juga aman bagi lingkungan.
Jika dikaitkan dengan biaya produksi, penggunaan insektisida nabati juga mampu menekan biaya produksi secara nyata. Sehingga bisa memberikan peluang bagi petani untuk mendapatkan keuntungan yang lebih baik.
sumber situs hijau

Kamis, 09 Juni 2011

Tanaman Pestisida Nabati: Sirsak (Annona muricata L.)

sirsak
Info lengkap pestisida nabati klik di sini: Pestisida Nabati
Buah sirsak atau kadang-kadang disebut nangka sebrang adalah salah satu bahan petsisida nabati yang ampuh banget. Nama latin sirsak adalah Annona muricata L. Beberapa keluarga sirsak yang lain juga memiliki manfaat yang sama, seperti: Srikaya (Annona squamosa L.) dan Mulwa (Annona reticulata L.). Bagian yang dimanfaatkan untuk bahan pestisida nabati adalah daunnya.
Sirsak dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah yang kering. Pembiatakn tanaman sirsak ini dapat dilakukan dengan biji atau okualasi.

Klasifikasi Ilmiah Sirsak:

Kingdom: Plantae
(unranked): Angiosperms
(unranked): Magnoliids
Order: Magnoliales
Family: Annonaceae
Genus: Annona
Species: A. muricata
Source: Wikipedia.org

sirsak wikipedia
sirsak

Bagian tanaman :untuk pestisida nabati

Seluruh bagian tanaman sirsak, srikaya, dan mulwa bisa digunakan untuk bahan pestisida nabati, yaitu: daun, biji, batang, akar dan buahnya yang belum masak. Bagian biji lebih beracun daripada daunnya. Akan tetapi karena biji jumlahnya sedikit, daun lebih sering dimanfaatkan untuk bahan pestisida nabati.

Hama sasaran:

Hama sasaran pestisida nabati dari sirsak, srikaya, dan mulwa:
  • Macam-macam aphis
  • Aphis kentang (Macrosiphum euphorbiae)
  • Aphis bunga krisan (Macroshiponiella sanborni)
  • wereng coklat (Nilaparvata)
  • Wereng hijau (nephotettix virescenns)
  • Wereng punggung putih (Sogatella furcifera)
  • kutu sisik hijau (Coccus viridis)
  • macam-macam ulat
  • ulat tritip (Plutella xylostella)
  • lalat buah (Ceratitis capitata)
  • lalat buah asia (Batrocera dorsalis)
  • Kumbang labu merah (Aulachopora foveicollis)
  • Kepik hijau
  • hama kapas (Dysdercus koeniglii)

Contoh pembuatan pestisida nabati dari sirsak

  1. Siapkan 500 gr daun sirsak, srikaya atau mulwa
  2. Rebus dengan 1 – 2 lite air.
  3. Biarkan sampai mendidih dan airnya tinggal setengah liter.
  4. Air rebusan disaring dan didinginkan.
  5. Untuk penyemprotan, larutkan setengah liter ekstrak daun sirsak dengan 10-15 liter air.
  6. Semprotkan ke bagian tanaman yang terserang hama.
Sumber:
Wikipedia.org
Ir. Pracaya

Rabu, 12 Januari 2011

TIKUS SAWAH ( Rattus argentiventer Rob & Kloss).

Tikus Sawah dan Cara Pengendaliannya

Status
Merupakan hama prapanen utama penyebab kerusakan terbesar tanaman padi, terutama pada agroekosistem dataran rendah dengan pola tanam intensif. Tikus sawah merusak tanaman padi pada semua stadia pertumbuhan dari semai hingga panen (periode prapanen), bahkan di gudang penyimpanan (periode pascapanen).

Kerusakan parah terjadi apabila tikus menyerang padi pada stadium generatif, karena tanaman sudah tidak mampu membentuk anakan baru. Ciri khas serangan tikus sawah adalah kerusakan tanaman dimulai dari tengah petak, kemudian meluas ke arah pinggir, sehingga pada keadaan serangan berat hanya menyisakan 1-2 baris padi di pinggir petakan.

Biologi dan Ekologi
Tikus sawah digolongkan dalam kelas vertebrata (bertulang belakang), ordo rodentia (hewan pengerat), famili muridae, dan genus Rattus. Tubuh bagian dorsal/ punggung berwarna coklat kekuningan dengan bercak-bercak hitam di rambut-rambutnya, sehingga secara keseluruhan tampak berwarna abu-abu. Bagian ventral/perut berwarna putih keperakan atau putih keabu-abuan. Permukaan atas kaki seperti warna badan, sedangkan permukaan bawah dan ekornya berwarna coklat tua. Tikus betina memiliki 12 puting susu (6 pasang), dengan susunan 1 pasang pada pektoral, 2 pasang pada postaxial, 1 pasang pada abdomen, dan 2 pasang pada inguinal. Pada tikus muda/predewasa terdapat rumbai rambut berwarna jingga di bagian depan telinga. Ekor tikus sawah biasanya lebih pendek daripada panjang kepala-badan dan moncongnya berbentuk tumpul.
Panca indera tikus sawah berkembang baik dan sangat menunjang setiap aktivitas kehidupannya. Sebagai hewan nokturnal, mata tikus telah berkembang dan menyesuaikan untuk melihat dalam intensitas cahaya rendah. Indera penciuman berkembang baik. Dengan indera tersebut, tikus mendeteksi wilayah pergerakan tikus lain, jejak anggota kelompoknya, dan betina estrus. Indera pendengaran tikus sawah berkembang sempurna. Indera pengecap berkembang baik sehingga mampu mendeteksi rasa pahit, racun, dan enak/tidaknya suatu pakan. Indera peraba juga berkembang baik, kumis dan rambut-rambut panjang pada sisi tubuhnya digunakan sebagai sensor sentuhan terhadap benda-benda yang dilalui. Dengan indera yang berkembang dan terlatih tersebut, tikus sawah memiliki kemampuan fisik yang prima seperti berlari, menggali, memanjat, meloncat, melompat, mengerat, berenang, dan menyelam. Tikus sawah juga berperilaku cerdik dan memiliki kemampuan belajar/mengingat (meskipun terbatas).
Tikus sawah mempunyai kemampuan reproduksi yang tinggi. Periode perkembang-biakan hanya terjadi pada saat tanaman padi periode generatif. Dalam satu musim tanam padi, tikus sawah mampu beranak hingga 3 kali dengan rata-rata 10 ekor anak per kelahiran. Tikus betina relatif cepat matang seksual (±1 bulan) dan lebih cepat daripada jantannya (±2-3 bulan). Cepat/lambatnya kematangan seksual tersebut tergantung dari ketersediaan pakan di lapangan. Masa kebuntingan tikus betina sekitar 21 hari dan mampu kawin kembali 24-48 jam setelah melahirkan (post partum oestrus). Terdapatnya padi yang belum dipanen (selisih hingga 2 minggu atau lebih) dan keberadaan ratun (Jawa : singgang) terbukti memperpanjang periode reproduksi tikus sawah. Dalam kondisi tersebut,anak tikus dari kelahiran pertama sudah mampu bereproduksi sehingga seekor tikus betina dapat menghasilkan total sebanyak 80 ekor tikus baru dalam satu musim tanam padi. Dengan kemampuan reproduksi tersebut, tikus sawah berpotensi meningkatkan populasinya dengan cepat jika daya dukung lingkungan memadai.
Tikus sawah bersarang pada lubang di tanah yang digalinya (terutama untuk reproduksi dan membesarkan anaknya) dan di semak-semak (refuge area/habitat pelarian). Sebagai hewan omnivora (pemakan segala), tikus mengkonsumsi apa saja yang dapat dimakan oleh manusia. Apabila makanan berlimpah, tikus sawah cenderung memilih pakan yang paling disukainya yaitu padi. Tikus menyerang padi pada malam hari. Pada siang harinya, tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Pada saat lahan bera, tikus sawah menginfestasi pemukiman penduduk dan gudang-gudang penyimpanan padi dan akan kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang generatif.
Kehadiran tikus pada daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way), kotoran/feses, lubang aktif, dan gejala serangan.
Pengendalian
Pengendalian tikus dilakukan dengan pendekatan PHTT (Pengendalian Hama Tikus Terpadu) yaitu pendekatan pengendalian yang didasarkan pada pemahaman biologi dan ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus dengan memanfaatkan semua teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Pelaksanaan pengendalian dilakukan oleh petani secara bersama-sama dan terkoordinasi dengan cakupan wilayah sasaran pengendalian  dalam skala luas.
Kegiatan pengendalian tikus ditekankan pada awal musim tanam untuk menekan populasi awal tikus sejak awal pertanaman sebelum tikus memasuki masa reproduksi. Kegiatan tersebut meliputi kegiatan gropyok masal, sanitasi habitat, pemasangan TBS dan LTBS. Gropyok dan sanitasi dilakukan pada habitat-habitat tikus seperti sepanjang tanggul irigasi, pematang besar, tanggul jalan, dan batas sawah dengan perkampungan. Pemasangan bubu perangkap pada pesemaian dan pembuatan TBS (Trap Barrier System / Sistem Bubu Perangkap) dilakukan pada daerah endemik tikus untuk menekan populasi tikus pada awal musim tanam.
Kegiatan pengendalian yang sesuai dengan stadia pertumbuhan padi antara lain sbb. :
TBS merupakan petak tanaman padi dengan ukuran minimal (20 x 20)m yang ditanam 3 minggu lebih awal dari tanaman di sekitarnya, dipagar dengan plastik setinggi 60 cm yang ditegakkan dengan ajir bambu pada setiap jarak 1 m, bubu perangkap dipasang pada setiap sisi dalam pagar plastik dengan lubang menghadap keluar dan jalan masuk tikus. Petak TBS dikelilingi parit dengan lebar 50 cm yang selalu terisi air untuk mencegah tikus menggali atau melubangi pagar plastik. Prinsip kerja TBS adalah menarik tikus dari lingkungan sawah di sekitarnya (hingga radius 200 m) karena tikus tertarik padi yang ditanam lebih awal dan bunting lebih dahulu, sehingga dapat mengurangi populasi tikus sepanjang pertanaman.
LTBS merupakan bentangan pagar plastik sepanjang minimal 100 m, dilengkapi bubu perangkap pada kedua sisinya secara berselang-seling sehingga mampu menangkap tikus dari dua arah (habitat dan sawah). Pemasangan LTBS dilakukan di dekat habitat tikus seperti tepi kampung, sepanjang tanggul irigasi, dan tanggul jalan/pematang besar. LTBS juga efektif menangkap tikus migran, yaitu dengan memasang LTBS pada jalur migrasi yang dilalui tikus sehingga tikus dapat diarahkan masuk bubu perangkap.

Fumigasi paling efektif dilakukan pada saat tanaman padi stadia generatif. Pada periode tersebut, sebagian besar tikus sawah sedang berada dalam lubang untuk reproduksi. Metode tersebut terbukti efektif membunuh tikus beserta anak-anaknya di dalam lubangnya. Rodentisida hanya digunakan apabila populasi tikus sangat tinggi, dan hanya akan efektif digunkan pada periode bera dan stadium padi awal vegetatif.

Selasa, 11 Januari 2011

MATERI KEGIATAN TRANING PENYULUH

MATERI KEGIATAN TRANING PENYULUH
BALAI PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN  DAN KEHUTANAN (BP3K)
KECAMATAN BOJONG
 TAHUN 2011


NO
BULAN
MATERI
KETERANGAN
1
2
3
4

1.




2.






3.




4.




5.



6.




7.





8.





9.



Januari




Pebruari






Maret




April




Mei



Juni




Juli





Agustus





September

Ø      Pengairan berselang
Ø      Bio Security pada ayam buras
Ø     Pemupukan berdasarkan Bagan Warna   Daun (BWD)

Ø Penanggulangan penyakit ikan dan kesehatan pada lingkungan
Ø   Pengendalian hama Wereng Batang Coklat (WBC)
Ø      Penggunaan pestisida secara bijaksana

Ø      Pengendalian hama walang sangit
Ø      Budidaya Kelinci pedaging
Ø   Penggunaan Bakterisida pada tanaman padi

Ø      Perlakuan benih padi (Seed treatment)
Ø      Pembungaan mangga diluar musim
Ø      Budidaya  Menthok (Itik Manila)

Ø      Pertanian Organik
Ø      Pembenihan ikan lele
Ø      Pemeliharaan kambing Ettawa

Ø      Penyemaian benih tanaman keras
Ø      Pemeliharaan ikan dengan tanaman padi ( Mina Padi)
Ø      Pestisada Nabati/organik

Ø      Pemeliharaan tanaman keras
Ø Pakan tambahan penggemukan sapi potong
Ø      Mengurangi kehilangan hasil waktu panen

Ø      Pembuatan pupuk organik dari jerami
Ø      Tanam kedelai dengan teknologi  Tanpa Olah Tanah (TOT)
Ø      Pemeliharaan itik secara intensif

Ø      Teknik pengasapan ikan
Ø      Budidaya tanaman melon
Ø  Teknologi sistem rice intensification (SRI) pada tanaman padi








1
2
3
4

10.






11.





12.

Oktober






November





Desember




Ø   Reproduksi Inseminasi Buatan (IB) pada ternak ruminansia (Sapi, Kambing)
Ø      Budidaya ternak ayam arab
Ø      Pembuatan biogas dari kotoran ternak

Ø      Varietas padi unggul baru
Ø   Teknik pembuatan dan pemanfaatan sumur resapan
ØPengelolaan lingkungan kesehatan pengolahan hasil perikanan

Ø      System resi gudang
Ø      Tanaman sayuran dataran rendah
Ø      Budidaya tanaman dalam pot




















Bojong, 7 Januari 2011
Koordinator Penyuluh BP3K
Kec. Bojong





TOTO SUPRIYARSO, S.TP
 NIP.19600905 198103 1 009